Guru idaman (1)

Apa sih sebenarnya guru itu? Guru itu kata orang jawa dari kata digugu (dipercaya) dan ditiru (dicontoh). Anak-anak lebih percaya penjelasan gurunya dari orang tuanya, karena dimata anak-anak guru adalah orang yang paling tahu dan yang benar. Guru mejadi teladan bagi mereka. Berat sekali memang beban seorang guru itu, apalagi untuk menjadi guru yang diidamkan dan selalu menjadi uswah bagi santrinya. Seorang guru adalah pendidik bukan hanya pengajar.

Ada beberapa syarat menjadi guru idaman yang ideal, yaitu :

  1. Berpenampilan rapi. Karena guru menjadi pusat perhatian anak didiknya maka dia harus berpenampilan menarik dan rapi. Penampilan menarik tidak harus berpakaian yang serba mahal, tapi usahakan semuanya rapi mulai baju, celana, kerudung (yang perempuan), rambut, sepatu dan sebagainya. Contoh : apabila sepatu kita kekecilan akan mengganggu selama mengajar kita.
  2. Bisa mengatur suara. Guru harus mengatur suaranya agar tidak terlalu keras maupun terlalu pelan. Suara guru yang melengking keras ada mengganggu anak didik kita, begitu pula sebaliknya apabila suara kita terlalu pelan maka materi kita tidak akan tertangkap.
  3. Ekspresi wajah. Kita harus pandai mengatur ekspresi wajah kita. Jangan sampai masalah yang ada di rumah terbawa ke sekolah, terutama kesedihan. Ekspresi wajah yang ceria, tegas, atau marah harus ditempatkan pada waktu yang tepat. Guru yang terlalu banyak cengengesan juga tidak akan disegani anak didiknya.
  4. Siap Bahan ajar. Sebelum berangkat ke sekolahan kita harus sudah benar-benar siap materi yang akan kita sampaikan. Jangan sampai baru didepan kelas kita berfikir apa yang akan kita sampaikan. Jangan thinguk-thinguk didepan kelas sehingga jadi bahan tertawaan anak didik kita.
  5. Mengajar secara total. Pemberian materi yang setengah-setengah hasilnya tidak akan maksimal. Apalagi kalau hati kita tidak sedang berada dalam ruangan/tempat tersebut. Yang terjadi adalah kasihan terhadap anak-anak. Untuk itu selai harus total juga harus memakai hati.
  6. Masuk ke dunia anak.Dijenjang manapun mengajar kita harus tahu dunia anak didik kita. Semisal kita mendidik anak usia pra sekolah maka kita harus tahu bahwa dunia anak seumur itu adalah bermain. dsb.
  7. Dekat dengan orang tua murid. Hal ini untuk mengetahui perkembangan maupun kebiasaan anak didik dirumah, sehingga kita bisa mendiskusikan dan mencari solusi dengan orang tua. Apabila seorang guru tidak ada komunikasi dengan orang tua maka akan terputus informasi perkembangan anak antara dirumah dan disekolah.

http://intiep.wordpress.com

11 Comments (+add yours?)

  1. nugroho
    Jan 25, 2008 @ 10:23:44

    bagus tulisannya….Baik menjadi orang penting tapi lebih penting menjadi orang baik

    Reply

  2. Fakhrurrozy
    Jan 25, 2008 @ 14:21:40

    Bisa berlaku layaknya seorang Bapak yang baik dan penyayang kepada anak-anaknya ketika bersikap terhadap murid-muridnya… :)

    Reply

  3. kangTutur
    Jan 25, 2008 @ 18:24:51

    hmmm…,
    kayaknya aku memenuhi syarat deh :lol:
    he.. he..
    blognya keren euy?

    Reply

  4. Anonymous
    Jan 25, 2008 @ 19:16:15

    Guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi media transfering ilmu kepada muridnya..

    Reply

  5. suci
    Jan 28, 2008 @ 11:45:58

    Memang menjadi guru yang hanya mengajar tidak terlalu sulit tapi menjadi guru yang mengajar, mendidik dan menjadi teladan, itulah yang sangat sulit.

    Reply

  6. koko
    Feb 17, 2008 @ 22:26:35

    Mendidik lebih susah dibandingkan mengajar, karena didalamnya terjadi interaksi emosional antara guru dan siswa, agar anak bisa berubah , tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat emosionalnya, Isya Allah semoga setiap guru dapat mendahulukan mendidik baru mengajar

    Reply

  7. taufik79
    Mar 05, 2008 @ 14:35:33

    kunjungi blog saya di taufik79.wordpress.com ya

    Reply

  8. Syafrudin
    Mar 06, 2008 @ 14:06:51

    Setuju dengan suci & koko
    Daftar di atas lebih menunjukkan sosok luar seorang pengajar, bukan sosok dalam seorang guru. Mohon maaf kalau kritik saya pakai cabe :-)

    #1 – Penampilan itu kurang penting. seorang guru boleh saja datang tidak pakai sepatu kalau memang sepatunya kekecilan :-)

    #2 & #3 – Ini akan keluar dengan sendirinya kalau memang niat kita adalah berdialog, bukan berceramah satu arah.

    #4 & $5 – Sebetulnya yang lebih penting adalah bukan ilmu yang ada di bahan belajar, tapi justru ilmu yang belum ada di bahan belajar :-) Siswa yang “senang” belajar tidak membutuhkan pengajar yang “mendiktekan” bahan pelajaran yang sudah ada di bahan belajar, karena dia akan bisa belajar untuk itu. Dia justru menunggu “cerita lain” di balik itu.

    #6 & 7 – Kalau yang ini setuju sekali, dan kalau dari interpretasi saya atas mengikuti Ki Hajar Dewantoro, ini faktor nomor tiga.

    Menurut saya, kalau menjelaskan sosok idaman, tidak perlu jauh – jauh, cermati lagi yang didengungkan oleh Ki Hajar Dewantoro, kelahirannya 2 Mei 1899 kita peringati sebagai Hardiknas.

    1. Ing Ngarso Sung Tulodho
    Kunci sukses pendidikan yang pertama dan utama adalah Akhlaq, dan guru benar – benar harus bisa menjadi teladan dalam akhlaq. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

    2. Ing Madyo Mangun Karso
    Kunci sukses kedua adalah Minat dan Semangat Belajar, dan guru
    harus benar – benar menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak sehingga setiap anak mampu berpikir kritis dan belajar mandiri. Dengan kata lain CBSA.
    Jadi sebetulnya guru tidak perlu banyak mengajar, justru lebih perlu banyak menggagas tentang beragam bintang prestasi di langit yang perlu setiap siswa gapai.

    Teman saya bilang ke saya bahwa tugas guru itu ibaratnya bercerita tentang enaknya ilmu dan membangkitkan selera anak untuk melahap ilmu tersebut.

    Keberhasilan tertinggi guru adalah jika mampu memgubah siswa yang mogok belajar menjadi siswa lebih pandai dari dirinya, bukan nanti setelah lulus kuliah, tapi pada saat ini.
    Ini bukan tidak mungkin, karena otak anak dalam golden-age sedang otak gurunya sudah mulai telmi, waktu belajar anak lebih luas, sementara waktu belajar guru lebih terbatas, sumber belajar saat ini lebih banyak daripada sumber belajar ketika guru kuliah.

    Tentu ada yang ingat Laskar Pelangi, kan :-)

    3. Tut Wuri Handayani
    Kunci sukses ketiga adalah Pengasuhan dan Pengayoman, dan guru harus benar – benar pengganti orang tua yang menerapkan Asah, Asih, Asuh, namun sekali lagi bukan dalam arti mengajar tapi mendidik.

    Reply

  9. edu
    Mar 15, 2011 @ 21:43:55

    oke

    Reply

  10. sudirman emet
    Jun 07, 2011 @ 18:15:03

    Saya sangat setuju dengan syafrudin ga perlu melihat dunia luar guru cukup melakukan apa yang dilakukan Ki Hajar Dewantara, itulah yang terbaik dan mesti dilakukan guru.

    Reply

  11. Nofrii
    Feb 24, 2012 @ 12:40:19

    Bagus nih.. Makasih ya infonya :)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: