Perekonomian Keluargaku (jeritan hati seorang isteri)

Ini cerita tentang seorang ibu yang suaminya pegawai negeri : (fiktif)

Hari ini aku terima gaji dari suamiku, sudah menjadi kebiasaanku biasanya aku langsung bagi untuk pos-pos yang harus dibayar. Mulailah aku menghitung dari bayar listrik, bayar telpon, bayar air, bayar SPP 2 orang anak, transport suami ke kantor, transport anak-anak ke sekolah dll. Setelah itu baru sisanya aku bagi untuk makan sehari-hari. Ketika aku bagi untuk 30 hari ke depan, apa hasilnya? Hasilnya aku bertambah pusing tujuh keliling. Ingin rasanya aku menangis, menjerit sejadi-jadinya. Kenapa? Karena uangku hanya cukup untuk makan 2 minggu saja! Kenapa? Semua barang naik harganya! Mulai telur, susu, terigu, minyak goreng, kecap……….semua naik! Bahkan untuk beli tahu tempepun tidak bisa setiap hari karena sekarang harganya mahal. Yang tidak naik hanya satu yaitu gaji suamiku……..

Duh Gusti………Tolonglah aku……..

Dulu aku membantu suamiku dengan aku berjualan kue. Sudah lumayan berkembang. Tapi sekarang? Hasil usahaku tidak bisa aku belanjakan bahan-bahan lagi. Dinaikkan harga jualnya? Malah banyak kue yang tidak terjual….. Dikecilkan ukurannya? Aku tidak tega sama pembelinya.

Lantas gimana????? Dari mana kami memenuhi kebutuhan makan yang 2 minggu? Apa aku harus ngutang? Utangku masih banyak! Apa aku harus menyuruh suamiku korupsi dikantornya? Naudzubillahi min dzalik. Amit-amit………

Ya Allah……..

Siapa yang bertanggungjawab atas semua ini? Apakah Engkau ya Allah? Pastilah bukan! Lantas siapa? Presiden? Menteri? Anggota DPR yang kaya-kaya? Gubernur? Bupati? Camat? Ketua RW? Ketua RT? Bukan……………yang bertanggungjawab yang pasti adalah suamiku! Hehehe…….(lha wong untuk keluargaku mosok yang bertanggungjawab Presiden!!!!)

Pak Presiden kalau mau bertanggungjawab saya di https://intiep.wordpress.com

2 Comments (+add yours?)

  1. Ram-Ram Muhammad
    Jan 22, 2008 @ 16:09:46

    Mbak Pur, fenomena seperti pada tulisan ini dirasakan oleh jutaan ibu rumahtangga. Tugas yang sangat berat. Sekiranya uang bulanannya besar, mungkin tidak perlu puter otak buat memposting uang per bulannya. Yang jadi masalah kalau kecil, dan tidak akan mencukupi. Di sini diperlukan kepiawaian manajerial seorang ibu rumahtangga. Ada pepatah sunda mengatakan “pinter neundeun, pinter ngeureut”, artinya kurang lebih pintar menyimpan, pintar menggunakan.
    *halah sok tahu ya?*

    Reply

  2. Aji Dedi Mulawarman
    Jan 23, 2008 @ 12:31:52

    kalau ga ada yang bisa di simpan dan digunakan gimana ya…?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: