Negeri Baliho

Virus Baliho

Seiiring dengan gegap gempita ramainya genderang menyambut pilkada dan pemilu di Indonesia, semakin banyak bertebaran baliho dan spanduk menghias jalan-jalan protocol diseluruh tanah air. Dimanapun seolah tidak akan dibiarkan ruang public itu bersih tanpa baliho.

Hari raya kemarin, kebetulan kami sekeluarga berkunjung ke daerah yang cukup terpencil, Anggrasmanis namanya. Daerah ini masuk dalam kabupaten Karanganyar. Lumayan jauh dan lumayan sulit kami menemukan daerah ini. Jalan berkelok-kelok, naik turun melewati bukit. Nah, sepanjang perjalanan kami ternyata didaerah yang cukup terpencil itupun tidak luput dari baliho dan spanduk. Mulai dari spanduk pilkada (karena sebentar lagi Karanganyar memang akan melaksanakan pilkada) sampai dengan spanduk partai-partai.

Begitu pula esok harinya ketika kami turun ke Solo, Sukoharjo maupun Wonogiri buanyaaaaakkkk baliho menghias jalan-jalan utama. Masing-masing caleg mengucapkan hari raya, masing-masing caleg mengingatkan dia diurutan ke berapa dan dari partai mana. Fenomena merebaknya baliho dan spanduk ini menyebar disemua daerah. Sepanjang perjalanan Malang-Solo tidak sepi dari baliho. Bukankah pemilu masih jauh?

Saya tidak bisa membayangkan 1-2 bulan menjelang pemilu nanti, mungkin taman-taman kota yang hijau tidak akan bisa dilihat lagi. Kita mungkin akan kesulitan mencari papan nama jalan karena tertutup baliho.

Pemerintah daerah, pemerintah pusat, KPU, KPUD, Panwaslu atau lembaga apalah yang terkait dengan pilkada atau pemilu hendaknya segera tanggap dengan merebaknya “virus baliho” ini. Ya memang benar, para caleg yang akan berlaga di pemilu nanti perlu sosialisasi siapa sosok mereka, mengingat dalam pemilu legeslatif nanti seseorang akan terpilih berdasarkan perolehan suara bukan nomor urut. Jadi ya masing-masing caleg berlomba-lomba menampilkan diri untuk di kenal dimasyarakat. Bisa dibayangkan berapa anggaran seorang caleg untuk mengkampanyekan dirinya? Ada seorang caleg yang sudah mulai menjual aset pribadinya untuk menutupi anggaran tersebut. Nah, ketika nanti sang caleg terpilih maka dia akan berusaha mencari ganti “modal awal” mereka dengan cara apapun juga. Semoga tidak demikian……

Dampak lingkungan

Selain jumlahnya yang banyak, baliho-baliho yang ada sekarang cenderung dicetak dari bahan plastik. Memang bahan ini lebih tahan lama, lebih cerah dan bisa mencetak foto sesuai aslinya. Tetapi mungkin perlu dipikirkan oleh para calon pemimpin kita mengenai dampak lingkungan yang akan ditimbulkan, mengingat bahan plastik ini tidak bisa diurai. Padahal kita dan seluruh dunia sedang mengahadapi “pemanasan global” yang melanda kita. Sekolah-sekolah digerakkan untuk melakukan penghijauan, mengurangi sampah plastik. Lha kok malah ini menambah sampah plastik. Bisa dibayangkan berapa banyak sampah baliho setelah pemilu nanti? Berapa caleg yang berlaga tiap parpol, berapa parpol, berapa dapil, berapa propinsi. Banyak kan??? Tolong dihitung dan siapkan investasi untuk mendirikan pabrik daur ulang baliho plastik. Kira-kira bisa jadi apa ya sampah baliho itu….???? Dengar-dengar bisa dibuat “cibuk”/gayung mandi…

3 Comments (+add yours?)

  1. mercusian
    Oct 22, 2008 @ 09:45:19

    ajang perebutan kekuasaan, bukan ajang menjadi pemimpin, serta ajang perusak lingkungan

    Reply

  2. Faiz
    Oct 30, 2008 @ 05:25:04

    Asslm, Salam knal, kunjungi blog saya, http://duniafaiz.co.cc/

    Reply

  3. skadik505
    Nov 03, 2008 @ 14:49:39

    Menurutku sah2 saja dan wajar2 saja ketika beliau2 yang akan mencalonkan diri untuk duduk dilembaga2 legislatif atau kursi eksekutif melakukan “marketing” dengan cara memasang stiker, poster, spanduk atau bahkan baliho diberbagai tempat asalkan dilakukan dengan cara2 yang baik dan benar. Tapi memang kelihatannya banyak tim sukses yang kurang punya etika dan rasa tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dari kerusakan dan berkurangnya aspek keindahan dari pemasangan reklame mereka tersebut. Contohnya sudah sangat jelas seperti yang diuraikan oleh blogger tadi. Sebenarnya dari kondisi tersebut bisa ditarik kesimpulan – walaupun secara umum – bahwa KEBAYANYAK calon2 tersebut mempunyai karakter dan watak yang CUEK, TIDAK PEDULI, EGOIS, dan KURANG PUNYA ETIKA sebagaimana tercermin dari cara memasang stiker, poster, spanduk dan baliho mereka. Hal ini akan semakin jelas tatkala mereka terlibat dalam sebuah DEBAT PUBLIK di media televisi yang seringkali cukup memalukan. Tidak hanya isinya yang sering tidak bermutu – terlalu rethoric tanpa makna dengan bumbu2 jargon bahasa asing, yang mungkin mereka sendiri bingung maknanya – tetapi juga dari cara mereka berdebat yang kurang beretika. Embel2 titel yang berendeng dibelakang nama mereka seringkali tidak tercermin dari KEMAMPUAN dan PERILAKU mereka dalam berdebat. Tampaknya dalam benak mereka berdebat itu berarti ADU SUARA KERAS dan TIDAK MEMBERI KESEMPATAN LAWAN BERBICARA. Thus, bukan adu argumentasi secara logis, mantik, dan beradab layaknya orang berpendidikan. Indonesiaku, malang benar nasibmu…….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: